Lynx yang mendengar pertanyaan penduduk, segera membantu Yun Qing menjawab dengan nada lembut,"Sebelumnya ingatanku bermasalah sehingga semua uang yang aku simpan, terlupakan. Yun Qing juga tidak mengetahui dimana aku menyimpannya. Sekarang ingatanku sudah pulih, jadi kami sudah mengambil kembali dan membaginya ke kalian sebagai tanda terima kasih sebelum kami pergi dari sini."

Mendengar jawaban itu, para penduduk yang dekat dengan mereka merasa bersyukur dan senang karena Xiao Lin sudah kembali ingatannya, sehingga yun Qing tidak perlu lagi bekerja keras sendirian.

"Yun Qing, apa kamu benar-benar akan pergi? Kami akan merindukanmu," kata seorang ibu tua yang dulu sering memberinya beberapa potong daging.

"Terima kasih atas semuanya. Aku akan kembali suatu hari nanti jika ada kesempatan," jawab Jelita dengan senyuman lembut.

Saat Lynx dan Jelita bersiap meninggalkan desa, suasana mulai tenang. Namun, ketenangan itu hanya sementara. Di jalan keluar desa, mereka tiba-tiba dihadang oleh pelayan rumah makan yang bernama Liang Wei dan sepuluh orang temannya. Wajah Liang Wei memerah penuh amarah, matanya menyipit tajam saat menatap Lynx, seperti binatang buas yang merasa terpojok.

"Kalian pikir bisa pergi begitu saja setelah mempermalukanku di depan semua orang?" ujar Liang Wei dengan nada sinis, sambil menunjuk Lynx dengan jari yang gemetar. "Serahkan semua koin emas dan perakmu sekarang juga! Aku melihat sendiri bagaimana kamu membagi-bagikan koin itu kepada penduduk dan Pengurus Liu. Kamu pikir aku bisa membiarkan itu?"

Dia berdiri dengan angkuhnya, tubuhnya tegak, seolah ingin menunjukkan dominasinya. Sepuluh orang temannya berdiri di belakang, bersenjata lengkap dengan tatapan penuh keyakinan bahwa mereka telah menang. Namun, Lynx hanya memandang mereka dengan ekspresi datar, seperti sedang melihat pertunjukan yang membosankan.

"Dan lagi, aku kehilangan lima koin perak karena harus membayar makananmu!" Liang Wei mengangkat pedangnya dan mengarahkannya ke Lynx, suaranya penuh dengan rasa sakit hati dan dendam yang menumpuk.Dia harus memohon potongan harga makanan karena uangnya tidak cukup. "Kamu membuatku terlihat seperti pecundang di depan Tuan Zhen Huan!"

Jelita, yang awalnya tampak waspada, justru mendesah panjang dengan ekspresi lelah. Dia melipat tangannya di depan dada, matanya memandang Liang Wei dengan rasa iba yang pura-pura. "Oh, ini lagi. Liang Wei, kamu tahu, kalau kamu mau minta uang, seharusnya bilang baik-baik. Tapi begini caramu? Sungguh memalukan."

Wajah Liang Wei berubah seketika. Dia terkejut, tidak menyangka Jelita akan berbicara seperti itu. "Apa yang kau bilang? Memalukan? Kalian yang memalukan! Suami tidak berguna dan istri yang hanya punya wajah cantik. Kalian pikir aku akan membiarkan ini berlalu begitu saja?" Ia menatap tajam ke arah Lynx, mencoba menakutinya.

Namun Jelita hanya mendengus kecil, lalu melirik Lynx dengan senyum penuh arti. "Xiao Lin, aku saja yang urus dia. Orang seperti ini tak perlu terlalu kau perhatikan."

Lynx tersenyum tipis sambil menyilangkan tangan di dadanya, seolah menikmati situasi ini. "Silakan, Jelita. Aku ingin melihatmu bersenang-senang sedikit."

Liang Wei tampak semakin frustrasi dengan sikap mereka yang santai. Namun Jelita tetap tenang, bahkan nadanya terdengar ringan saat mulai bicara. "Liang Wei, kau tahu, kalau saja kau tidak datang mengganggu kami dirumah makan tadi, aku mungkin bisa menikmati makananku lebih baik. Tapi karena ulahmu, makanan yang seharusnya aku nikmati karena pertama kalinya aku rasakan, jadi terganggu. Jadi, terima kasih sudah merusak pengalaman itu."

"Kau... kau!" Liang Wei menggertakkan giginya, wajahnya semakin memerah. Ia mencengkeram gagang pedangnya dengan erat hingga urat di tangannya terlihat menonjol. "Cukup bicara! Aku tidak butuh ocehan dari perempuan sepertimu!" Dengan penuh kemarahan, ia melirik teman-temannya dan memberi perintah tegas. "Tangkap mereka berdua! Ambil semua koin emas dan perak mereka!"

Sepuluh orang itu mulai bergerak maju, mengelilingi Lynx dan Jelita dengan senjata terhunus. Namun Jelita tetap berdiri santai di samping Lynx, bahkan kini ada senyum kecil di wajahnya. "Coba saja kalau kalian bisa," ujarnya sambil menjulurkan lidah sedikit, sikapnya setenang seorang pengamat yang menonton pertunjukan.

Dia lalu menoleh ke Lynx dengan ekspresi ceria. "Suamiku, aku penasaran. Berapa lama waktu yang kau perlukan untuk membereskan mereka semua?" tanyanya dengan nada santai, seolah mereka sedang mendiskusikan sesuatu yang sepele.

Lynx terkekeh kecil, bahunya sedikit bergerak karena menahan tawa. "Hm, mungkin... satu menit? Atau kurang."

Mendengar itu, Liang Wei tertawa keras, meskipun tawanya terdengar dipaksakan. "Satu menit? Kau benar-benar percaya diri untuk seorang pecundang!" Ia mengarahkan pandangannya pada salah satu temannya. "Kau duluan. Hajar dia!"

Pria itu maju dengan cepat, wajahnya dipenuhi keyakinan. Dia mengayunkan tinjunya ke arah Lynx dengan tenaga yang cukup besar, jelas berharap pukulan itu bisa menghancurkan musuhnya. Namun, Lynx bahkan tidak bergerak sedikit pun sampai detik terakhir.

Dengan gerakan secepat kilat, Lynx menahan tangan pria itu dan, tanpa memberi kesempatan untuk bereaksi, ia menendang kakinya dengan presisi. Pria itu langsung jatuh ke tanah dengan keras, seperti karung yang dilemparkan. Namun sebelum pria itu terjatuh, Lynx dengan kecepatan yang tidak terlihat, memberikan satu pukulan kecil di titik tertentu pada tubuhnya, membuatnya jatuh dan pingsan.

Hening. Semua orang di tempat itu membeku.

Orang-orang Liang Wei yang lain terdiam, ekspresi mereka beragam antara kaget, bingung, dan takut. Tidak ada yang bergerak. Bahkan Liang Wei, yang sebelumnya penuh percaya diri, mulai kehilangan kata-kata. Matanya membelalak dengan mulut terbuka tidak percaya apa yang dilihatnya saat melihat temannya yang tergeletak tak sadarkan diri hanya dalam satu serangan.

"Apa yang terjadi?" salah satu dari mereka bertanya dengan nada keheranan, menoleh ke teman-temannya yang sama-sama tertegun.

"Siapa selanjutnya?" Lynx bertanya dengan nada malas. Matanya yang tajam menyapu para penyerang yang masih berdiri di tempat, tubuh mereka mulai sedikit gemetar.

Jelita menahan tawa, menutupi mulutnya dengan tangan. "Xiao Lin, aku pikir kau mengatakan 'satu menit'? Tapi itu bahkan tidak sepuluh detik." Dia melirik Liang Wei dengan pandangan menggoda. "Oh, kasihan sekali. Pengecut ini mungkin perlu lebih dari sekadar sepuluh orang untuk menang melawan suamiku."

Liang Wei menelan ludah. Namun dia mencoba menyembunyikan rasa gugupnya dengan mengacungkan pedangnya ke arah Lynx. "Jangan lengah! Dia hanya manusia biasa! Serang dia bersamaan!" teriaknya kepada anak buahnya.

Tetapi tidak ada satu pun dari mereka yang bergerak. Pandangan semua orang terfokus pada Lynx, yang kini melangkah maju, satu tangan dimasukkan ke dalam saku, sementara tangan lainnya melonggarkan kerah bajunya dengan santai. Dia tidak terlihat seperti seseorang yang akan bertarung, melainkan seseorang yang sedang berjalan-jalan di sore hari.

"Sudah kubilang, aku bisa membereskan kalian dalam satu menit. Tapi kalau kalian ingin mencoba keberuntungan lagi, aku tidak keberatan mempercepatnya." Lynx berhenti beberapa langkah dari Liang Wei, menatap langsung ke matanya. "Ayo, tunjukkan apa yang kau punya. Atau... kau lebih suka menyelesaikan ini tanpa kekerasan?"

Salah satu anak buah Liang Wei mundur perlahan, matanya dipenuhi ketakutan. "Liang Wei... aku rasa dia bukan manusia biasa... Ini tidak seperti yang kita duga..."

"Ternyata dia bisa bela diri. Apa dia seorang kultivator?" tanya salah satu dari mereka dengan suara bergetar.

Liang Wei mendengus, berusaha mengembalikan wibawanya. "Dasar bodoh! Kalau dia kultivator, kita pasti sudah mengetahuinya sejak awal! Cepat maju! Bunuh dia! Dan tangkap perempuan itu! Kita akan serahkan dia ke Tuan Muda Huo Jun, dia pasti senang." Liang Wei berbicara dengan nada penuh keyakinan, meski di matanya ada percikan ketakutan sambil memerintahkan rekannya yang lain untuk maju.

Dengan cepat pria itu berlari maju dan mengayunkan senjatanya kearah Lynx. Di dunia kultivasi, pembunuhan dilarang dilakukan, tetapi hal itu tidak mengurangi pembunuhan yang ada, terutama jika dilakukan oleh para kultivator atau keluarga yang berkuasa. Dengan memberikan Yun Qing ke Huo Jun, mereka merasa yakin masalah ini akan selesai tanpa ada risiko bagi mereka.

